Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

A To Z Persalinan tanpa jahitan

 

www.jejakbunda.com

 

Saat rasa sakit jelang persalinan mendera, aku mulai hilang asa. Ingin mengakhiri semuanya, biarlah tulang luluh lantak jadi saksi kuakhiri perjuangan ini. Lalu, Bidan Nisa sayup berbisik. 'Kuatkan prasangka pada Allah ya, Kak'. 

 Aku terkesiap dan mencoba membangun kesadaran ditengah putaran kontraksi yang menghebat. Ini jihadku. Beribu-ribu istighfar meluncur lirih. Memohon ampun atas prasangka yang mencoba melalui taqdirNya. Tidak ada daya upaya selain IA Yang Maha Kuasa. Rasa sesal merutuki saat teringat terkadang seringkali mengandalkan kekuatan diri, padahal sejatinya diri hanya makhluk yang tak mampu. Perlahan, dorongan muncul bersamaan dengan kepasrahan total menghadirkan sebuah tangisan bayi perempuan. Alhamdulillah lahirlah putri ketujuh kami.

Rekaman diatas adalah memori yang melekat kuat di hati saat Allah karuniai kelahiran putri ketujuh setahun lalu yang dibantu oleh Bidan Nisa. Momentum kelahiran yang tak hanya melahirkan sebuah kehidupan baru bagi seorang bayi namun juga bagiku, ketakwaan yang lebih besar pada taqdirNya.

Bidan Nisa #SaksiJihadBunda

Ia, Bidan Nisa. Elita Annisa Sitompul lengkapnya. Klinik yang berpraktek di alamat Jalan A.R Hakim gang Setia Kawan ini belum pernah sekalipun aku kunjungi. HPL putri kami masih bulan depan. Namun ternyata aku mengalami kasus KPD( Ketuban Pecah Dini) di momentum Lebaran idul Fitri dimana tidak ada klinik bidan yang buka apalagi saat itu adalah masa pandemi. Dengan semangat, bidan Nisa datang menjemput ke rumah untuk membawaku ke klinik bersalin yang berjarak tempuh sekitar 25 menit dari rumah. Begitulah pertemuan pertama sekaligus ekseskusi persalinan yang ia lakukan. Memorable.

Jelang trimester akhir kehamilan putra ke delapan, kami memutuskan untuk bersalin kembali ke klinik kenangan ini. Sekitar pertengahan September bidan Nisa memeriksa kondisi kehamilanku, prediksi berat bayi dan memberikan banyak edukasi sebagai persiapan persalinan beberapa waktu yang akan datang. Tak lupa ia berpesan untuk senantiasa berkabar bila mengalami kondisi KPD seperti yang terjadi di kehamilan sebelumnya.

Saat memasuki persalinan kala satu, aku mulai memberikan kabar padanya dan memastikan waktu untuk datang dan bersiap bersalin. Komunikatif, begitu ia memperlakukan pasien. Di sebuah siang, saat kulihat pada aplikasi penghitung kontraksi sudah menunjukkan terjadi his per lima menit sekali aku pun bergegas membawa perlengkapan persalinan bersama suami.

Tiba di klinik, bidan Nisa memeriksa kondisi umum lalu melakukan VT. Masih jauh, begitu komentarnya. Aku lalu bertanya penyebab pintu masih jauh karena asumsi his yang sudah intens hadir per lima menit. Dengan tenang ia menjelaskan kemungkinan besar adanya lilitan tali pusar pada bayi ataupun tali pusar yang pendek sehingga bayi sulit untuk turun. Aku mengangguk, karena memang beberapa putra yang kulahirkan memiliki riwayat lilitan tali pusar yang menyebabkan proses persalinan menjadi agak lama.

Ditemani kakak ipar dan ponakan aku berbaring miring ke sisi kiri bed dengan tetap memantau pergerakan kontraksi di aplikasi. Suara murottal Al-Qur'an terdengar syahdu di ruang bersalin. Dinding kamar yang dihiasi tulisan dan doa jelang bersalin menambah rasa khauf dan roja' pada Sang Khaliq. Begitulah suasana bersalin di klinik bidan Nisa. Maghrib menjelang, beberapa riuh kanak-kanak mengaji di halaman klinik terdengar. Sudah setahunan ini bidan Nisa bersama suaminya mengajak anak-anak di gang mengaji Al-Qur'an. Sekitar 40 anak jumlahnya. Dan riuh kanak-kanak berganti suara tangisan bayi laki-laki tepat pada waktu adzan Isya kota Medan bergema di pengeras suara beberapa masjid. Ahlan bik, Anakku.

Selain melahirkan dengan nuansa keshalihan, klinik bidan Nisa juga melakukan persalinan dengan metode gentle birth kecuali bila ada faktor penyulit yang membutuhkan tindakan lainnya. Hal menarik lainnya adalah adanya penundaan pemotongan tali pusar (Delayed Cord Clamping) yang tentunya ini berdasarkan kesepakatan dengan pasien dan keluarga. Saat pemotongan tali pusar, ayah diberikan kesempatan untuk turut melakukan pemotongan, tentunya dipandu Bidan Nisa dengan prosedur yang tepat. Program inisiasi menyusui dini juga dilakukan di klinik ini. Jadi ibu dan bayi bisa rooming in setelah persalinan. Kejutan lainnya, saat ternyata Bidan Nisa pula yang menyelesaikan pembuatan Akte si bayi dan juga Kartu Keluarga (KK) kami. MaasyaaAllah, terasa banyak kemudahan dan poin plusnya. Bila berdomisili di Medan, klinik ini menjadi klinik yang aku rekomendasikan untuk nuansa bersalin yang tenang dan nyaman.

Tips persalinan tanpa robekan

Dari delapan kali bersalin normal, baru kali ke delapan ini aku mendapatkan rezeki bersalin tanpa jahitan. Pada tujuh persalinan sebelumnya, rasa nyeri pada otot perut bagian bawah akan berlangsung sekitar sepekan terutama di awal pasca persalinan. Di persalinan ke delapan ini rasa nyeri terjadi satu atau dua hari saat lochia(gumpalan darah nifas) keluar dalam jumlah banyak. Di hari ketiga, perut bagian bawah sudah mulai normal seperti biasanya. 

Sebenarnya perineum cukup elastis. Namun terjadinya robekan hingga harus dilakukan penjahitan biasanya karena robekan normal ataupun episiotomi yang dilakukan oleh provider untuk memudahkan proses persalinan. Penyebab robekan ini bisa terjadi karena ibu mengalami stress saat merasakan sakit sehingga otot-otot menjadi kaku ataupun salah mengejan. Robekan bisa bermacam-macam, seperti robekan derajat 1 dan 2 ataupun derajat 3 dan 4.

Tips persalinan tanpa robekan

  • Lakukan exercise untuk melenturkan otot panggul dan perineum
Gerakan pada otot dasar panggul dapat dilakukan seperti gerakan seperti sujud, exercise di gym ball, gerakan jongkok berdiri, berjalan cepat agar posisi bayi cepat turun dan bisa juga dilakukan pijat perineum. Latihan bisa dimulai di pekan ke 36. Namun, saya tidak melakukan pijat perineum. Hanya gerakan ringan di gym ball sesekali.
  • Konsumsi makanan yang dapat meningkatkan elastisitas perineum
Makanan yang berpengaruh pada elastisitas perineum salah satunya adalah yang mengandung cysteine seperti daging unggas/ ayam, telur, yoghurt, daun bawang, brokoli dan lainnya. Selain itu lemak sehat seperti minyak zaitun, minyak kelapa, kacang-kacangan seperti almond, biji bunga matahari, alpukat juga sangat baik bagi elastisitas perineum. Jangan lupa konsumsi vitamin E dan vitamin C.

  • Pilih posisi bersalin yang memudahkan persalinan
Ada banyak posisi yang mendukung persalinan normal. Seperti jongkok, berdiri ataupun berbaring miring. Saya memilih berbaring miring. Sepanjang kontraksi asli yang teratur, saat miring ke kiri membuat saya merasa lebih stabil dan mampu mengontrol nafas dengan baik. Hingga akhirnya ada refleks kuat mengejan hadir mendorong di area rektum dan perineum saya mencoba tetap tenang sambil meniup nafas ke bawah. Lalu dengan alami dorongan bayi meluncur dengan lembut.
  • Latihan pernafasan yang tepat
Latihan pernafasan cukup penting agar saat terjadi dorongan mengejan pada perineum tidak dilakukan dengan tergesa-gesa sehingga menyebabkan robekan dan mengejan yang salah. Allah sudah menciptakan rahim dan segala perangkatnya dengan sempurna. Saat tubuh sudah siap, maka otomatis bayi pun berjuang untuk keluar secara alamiah. Ibu hanya butuh melakukan gerakan nafas yang teratur saat ekspirasi dengan meniupkan ke bawah. 

  • Tetap rileks dan berprasangka baik pada Allah
Poin terakhir adalah kunci. Sebab saat rileks otot akan lebih lentur dan tidak kaku. Tubuh akan siap pada refleks mengejan. Rasa sakit yang teramat sangat jangan menjadikan diri menjadi panik. Justru, ia hadir sebagai pertanda bahwa bayi siap hadir dan dijemput dengan zikir total serta kepasrahan pada sang Khalik. Berjuang adalah bagian dari rasa cinta. Ikhlaskan diri melakukan sedikit perjuangan untuk menjemput sang cinta. Yakni iman yang kuat bahwa Allah tak kan mungkin menzhalimi hambaNya dengan taqdir persalinan ini.

Inspirasi Nama Putra ke Delapan


Author www.linranamom.com memiliki peran penting dalam menginspirasi nama putra ke delapan kami. Thanks a bunch, BunVi. Awalnya saya mengenal beliau di sebuah komunitas parenting. Di sebuah momen perkenalan, ia sempat bercerita tentang nama putra sulungnya yang unik. Akhirnya kami berjodoh untuk bergabung kembali di sebuah grup  blogger asal Sumatera Utara. Dalam sebuah kesempatan, saat berbicara mengenai nama ia menceritakan kembali nama putra nya yang unik . Ternyata itu adalah akronim dari gabungan nama beliau dan suami. Iseng aku bercerita pada suami terkait nama itu. Tak disangka suami malah suka dengan nama itu. ALSNOF. Begitu awalnya ingin kami beri nama bayi yang lahir nantinya.
Jelang trimester akhir mendekati momen persalinan, akhirnya kami bersepakat mengubah nama dengan kearifan lokal. Masalahnya, embel-embel marga yang dimiliki suami akan terasa kontras dengan calon nama bayi yang ke Rusia-rusiaan. Dari pada bikin gumoh. Bertukar nama ALSNOF menjadi ALSHAD. 
Selain merupakan akronim, Alshad juga bermakna kebahagiaan. Agar kami senantiasa diingatkan untuk terus merasa bahagia akan rezeki yang dihadirkan melengkapi keluarga ini.

www.jejakbunda.com


DZUHAZZHIN, orang-orang yang memiliki keberuntungan.
Saat membaca makna dari Q.S Fussilat ayat 35 ini seperti menjadi ingatan bagi kami bahwa orang-orang pilihan saja lah mendapatkan banyak anugerah dan keutamaan. Dan, pilihan itu terletak pada 'kesabaran' kita menghadapi tantangan yang hadir. Saat sabar mampu digenggam, maka keberuntungan akan kita rasakan sepenuhnya.
www.jejakbunda.com



Nah, karena kehadiran putra kedelapan kami telah melengkapi list kolom KK yang dulunya bersisa satu baris, maka secara ikhtiar putra kedelapan ini menjadi anak terakhir di keluarga kami. 



ARSA, begitulah aku memanggilnya. Karena suami lebih suka memanggil Alshad saja. Arsa merupakan akronim dari Anak Ragil Shisca Amri. Semoga menjadi pelengkap kebahagiaan dan keberuntungan bagi keluarga dan orang di sekitarnya.

13 komentar untuk "A To Z Persalinan tanpa jahitan"

  1. Keren si mba kliniknya. Persalinan di temani suara murottal al-quran.
    Dijahit setelah persalunan sakitnya itu tak tertahan, dan ini bikin trauma sampai sekarang. Next kalau hamil lagi harus lebih dipersiapkan dengan matang biar gak dijahit lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, bener. Nyeri di jahitan bisa stay sekitar 5-7 hari ya. Apalagi kalo pas di jahit, tidak di bius. Waduuuuuuh. lumayan banget.
      Untungnya saat di jahit, bisa liat wajah si kesayangan. Jadi agak terobati

      Hapus
  2. mauuu Masya Allah, jadi impian tiap ibu gak sih kalau begini hehe.. tapi impian memang harus diperjuangkan ya :)

    BalasHapus
  3. Masya Allah masya Allah, bisa ya ternyata persalinan tanpa robekan. Keren mbaaaaa. BTW selamat datang ya Arsa. Semoga menjadi putra soleh kebanggaan keluarga.

    BalasHapus
  4. Mbak anak bungsuku namanya Harsa...alias Arsa kalau dalam bahasa Jawa ditulis pakai hanacaraka jadi Harsa ejaannya. Artinya kesenangan / kebahagiaan

    Aku kalau baca cerita persalinan suka berkali-kali memuji pada kekuatan seorang Ibu..Masya Allah cerita lahiran itu unik-unik ya. Mbah Shisca lagi dah delapan kali, kirain sudah di luar kepala ngerasain prosesnya , ternyata ya beda- beda..

    Semoga kelahiran si ragil jadi menambah kebahagiaan keluarga. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, iyakah?
      Hihi, toss lah hayuuk.

      Jadi Alshad dan Arsa punya kesamaan arti, yakni kebahagian.

      Padahal di awal kami bermaksud untuk mengambil makna akronim nya. Tapi untuk artiannya pun sudah memiliki arti khusus juga.

      Hapus
  5. Baca ini auto inget rasanya jahit dengan ciuman dari ujung jarumnya dan gesekan benang .
    Tapi pun masih merasakan syukur mengingat ada temen yang lahiran harus jahit luar dalam. Karena katanya udah lumayan parah robekn. Jadinya dijahit perlahan dari bagian dalam ke luar.
    Ssssshhh ngiluuu

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah kakak pun tanpa tindakan episiotomi pas melahirkan Ocean 2017 lalu. Kata dokter yang menolong persalinan, karena anak keempat tulangnya sudah melunak, gak seperti ketiga anak sebelumnya. Nah tiap orang kan beda2 ya, mungkin utk Shischa beda lagi. Yang penting amanah yg dinantikan selama 9 bulan telah hadir ke dunia ya, ahlan wa sahlan, Arsa...!

    BalasHapus
  7. Wah lucu juga nih namanya dari akronim gitu kak, biasanya kan nama pure dari bahasa arab atau bahasa yg lain gitu ya, barakallah sekali lagi buat kak shis ya :)

    BalasHapus
  8. Semoga Arsa menjadi anak yang soleh.
    Dan selalu bahagia sesuai doa dalam nama..
    Dan menambah kebahagiaan bunsis dan keluarga juga...
    Aaamiin ya Allah

    BalasHapus
  9. Semoga baby Arsa menjadi anak yg Sholeh ya..Amin YRA

    BalasHapus
  10. Masya Allah mbak, punya 8 putra/i.. keren bangeeet. Mana yang kedelapan tanpa jahitan pula lahirannya, masya Allah. Welcome to the world dik Arsa, tumbuh jadi anak yang sholeh yaaa.. aamiin.

    BalasHapus
  11. MasyaAllaah, sehat2 selalu ya mbaa. Ibu saya juga melahirkan 7 anak normal. Semoga jadi anak shalih shalihah ya mbaa <3

    BalasHapus