Behel-Behel Eksis


Pic dari google

Yes! Sarah memekik girang dalam hati. Akhirnya ia berhasil lolos mengalahkan 5 orang kandidat lain yang mendaftarkan diri masuk kedalam Girl Squad yang paling eksis di sekolah. Baginya, ini adalah prestasi yang cukup membanggakan dan berpeluang besar untuk lebih dikenal di sekolah. Sedari masih duduk di Sekolah Menengah Pertama ia sudah menjadikan hal ini sebagai wishlist bila ia masuk SMA. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Anggun – salah seorang personel Gabriela – memutuskan keluar dari girl squad ini sebulan yang lalu. Akhirnya,personel Gabriela lainnya memutuskan untuk merekrut satu orang sebagai pengganti Anggun.


“Selamat ya, akhirnya lo berhasil gabung di Gabriela” ujar Bella disambut uluran tangan personel lainnya menyalami Sarah satu – satu. 


Sarah tersenyum lirih.


“Eh, tapi lo jangan lupa ya dresscode kita di Gabriela” tukas Bella lagi saat cipika – cipiki dengan Sarah. Sarah mengangguk sambil memberikan kode jempol keatas dan memiringkan kepalanya ke kanan.


“Ih, lo lupa deh. Kalo oke, gerakin jempol ke kanan trus kepala miring ke kiri” protes yang lainnya.


“Iya,sorry. Lupa” jawab Sarah sekenanya.


“Udah udah, Sarah kan masih baru. Wajarlah dia masih adaptasi sama gaya kita” kata Bella menenangkan personel Gabriela lainnya. 


“Oiya, waktu lo prepare dresscode satu minggu ya” sambung Bella lagi seraya menepuk pundak Sarah. Sarah hanya mengangguk.


Huff. Sarah menghela nafas panjang sambil merebahkan tubuhnya di kasur. Ia masih teringat pesan Bella tentang dresscode. Berat memang, namun tinggal selangkah lagi dan sarah tidak ingin ia gagal bergabung di Gabriela karena permasalahan dresscode. Behel Gigi. Yup, memakai behel gigi adalah persyaratan masuk sebagai personel Gabriela. Dan semua personel wajib menggunakan karet dengan warna senada sebulan sekali sebagai dresscode dan identitas. Ia sedang berfikir keras bagaimana membujuk agar Ibu setuju dan memperbolehkan ia menggunakan behel gigi. 


Kriik


Derit suara Pintu dibuka perlahan. Tampak kepala ibu muncul dari balik pintu.


“Alhamdulillah anak ibu sudah pulang. Ibu sudah masak daun ubi tumbuk dan kering teri kacang kesukaan Sarah” ujar ibu lembut


Sarah tersenyum. Ibu memang sangat perhatian sekali dengan dirinya. Sedikit pun ia tak pernah merasakan kekurangan cinta kasih walau hanya ibu yang membesarkannya seorang diri. Sebenarnya ia sungkan mengajukan permintaan yang ia tahu pun cukup berat untuk dipenuhi ibu. Namun kesempatan emas ini tak mungkin datang dua kali. Akhirnya Sarah memberanikan diri untuk mencoba.


“Eng, Ibu bolehkah aku menanyakan pendapat ibu?”tanya Sarah


“Ada apa Sayang?jawab ibu.


“kalau aku pakai behel menurut ibu bagaimana?” Sarah bertanya lirih sambil menundukkan pandangan ke lantai. Ia tidak siap merasakan kekecewaan bila ibu menolak permintaannya bahkan yang paling ringan melihat kesedihan ibu yang tidak mampu meluluskan permintaannya. Seumur hidupnya memang belum pernah ibu menolak apa yang diinginkannya. tapi ia pun sadar, behel seharga rumah yang mereka kontrak setahun yang sudah menunggak dua bulan.


Ibu terdiam beberapa saat dan Sarah merasakan tubuh Ibu mendekatinya perlahan.


“Sarah mau pakai behel?” Ibu balik bertanya


“aku Cuma pengen tau pendapat ibu bila aku pakai behel” jawab Sarah sambil menarik tubuhnya ke ujung dipan. Nyalinya lumayan kecut saat ibu menanyainya. Akan lebih mudah bagi sarah bila ibu langsung menolak.


“apakah sarah merasa ada yang perlu diperbaiki dari gigi – gigi Sarah?’ tanya ibu lagi.


“Eng.. Nggak juga sih” jawab Sarah jujur. Tapi tetap saja ia tidak berani mengungkapkan alasan sebenarnya pada ibu.


“Bu, Sarah tiba – tiba laper berat nih. Sarah makan dulu ya bu” Sambung Sarah sambil bergegas keluar kamar menuju dapur. Ia memilih untuk tidak melanjutkan obrolan tentang behel ke ibu. Ia putuskan akan mencari cara lain tanpa melibatkan ibu. Toh masih ada enam hari lagi tenggat waktu yang diberikan Bella dan Gabriela squad. 


Keesokan harinya Sarah tiba di sekolah pukul 06.45. Biasanya jam segini belum banyak siswa yang hadir. Sudah dua pekan Sarah menitipkan bubur jagung dan bubur kacang hijau buatan Ibu untuk dijual di kantin sekolah. Alhamdulillah, dagangannya selalu habis. Dan biasanya, sesekali ia bertemu dengan Bu Susi – guru kimia baik hati – yang juga menitipkan kue untuk dijual di kantin sekolah. Bu susi bahkan sering memberi Sarah kue mangkok kesukaan Sarah secara gratis.


Di lorong menuju kantin, ia melihat Bu Susi berjalan agak sempoyongan. Beberapa benda bawaannya terjatuh dari paper bag yang terlihat menganga. Bu susi terlihat kesulitan memunguti barang – barangnya yang berceceran dengan tangan yang penuh plastik berisi alat – alat praktikum sekolah. Sarah bergegas mendekat ke arah Bu Susi dan segera membantu memunguti benda – benda yang berjatuhan. Saat ia memungut beberapa buku, terlihat lipatan kertas merah dibalut kertas HVS. Uang. Pekik sarah dalam hati. Secepat kilat ia selipkan lembaran merah dibalik ketiak kirinya.


“Makasih ya Sarah, sudah bantu memungut barang – barang yang berjatuhan” kata Bu Susi sebelum mereka berpisah.


Sarah mengangguk gugup. Lalu bertanya lirih “Bu Susi gak papa?” tanya Sarah basa – basi.


Bu Susi menggeleng sambil menjawab “Agak rendah tensi Ibu, Sarah. Makanya Ibu hoyong”


Sarah menyeka dahinya yang sedari tadi berpeluh. Tangannya masih bergetar. Tak kalah dengan degup jantungnya yang semakin melaju. Lembaran merah didalam lipatan kertas putih HVS milik Bu Susi telah berpindah kedalam saku belakang tas sekolahnya. Syukurnya Bu Susi tidak menyadari miliknya yang terjatuh. Seketika senyum mengembang di bibir Sarah. Peluang mendapatkan behel gigi semakin dekat.


Siang sepulang sekolah Sarah dan Gabriela Squad bertemu di kantin.  


“Bengong aja lo Sar” sikut Bella ke samping perut Sarah.


“Ah, nggak kok” tepis Sarah.


“Lo jadi Jadi pasang behel? Kapan” cecar Shally


“Jadi lah.., Nih uangnya udah ada” tukas Sarah cepat sambil menunjukkan lipatan berisi uang.


“Wuish….kereeen deh kamu. Sama dokter langganan aku aja” kata Mia menawarkan


“Beres, Atur aja” jawab Sarah lagi.


“Eh iya Sar, kita – kita mau ke Edelweiss. Ada ketemuan sama Belleza” kata Bella


“Belleza?” tanya Sarah bingung


“Oooh, Lo belum dikasih tau ya. Belleza itu Squad di SMA Edelweiss. Kayak kita – kita juga. Kepanjangan dari Behel Edelweiss Mozaik Dua. Kalo kita kan Gabriela, Gank Behel Putri Enam Lima” tukas Mia menjelaskan panjang lebar.


Sarah manggut – manggut. Ia juga baru tau kalau Gabriela adalah sebuah singkatan. Pantesan aja teman-temannya memakai behel sebagai dresscode.


Tak lama teman – temannya pergi meninggalkan sarah di kantin. SMA Edelweiss berada tidak jauh dari SMA Negeri 65. Sama – sama di sekitar jalan Mozaik.


Sarah menyeruput teh botol Sambil melihat ke arah lapangan.


Hei, bukankah itu Anggun? Anak kelas XI yang kemarin menyatakan keluar dari Gabriela Squad. Refleks ia mengambil tas dan bergegas mengejar Anggun. Ia tak ingin kesempatan menemui Anggun hilang. Mumpung kawan – kawannya yang di Gabriela sedang tidak ada di sekolah. Kalau tidak, bisa habis dia nanti. Ada banyak hal yang menggelayut di fikirannya dan ingin ia tanyakan pada Anggun. Terutama perihal pengunduran dirinya dari Gabriela. Setahu Sarah, berada di Gabriela selain tertular dampak eksis dan famous, personelnya pun seperti memiliki kemudahan akses fasilitas sekolah. Seperti Bella yang didapuk menjadi sekertaris OSIS karena mendapatkan perolehan suara terbanyak saat pilkada siswa. Ataupun Shally yang dekat dengan anggota klub – klub di sekolah. 


Duh! Sarah kehilangan bayangan Anggun. Cepat sekali anggun berjalan. Tapi sepertinya anggun mengarah ke gedung belakang sekolah.


“kamu ngikutin aku ya” tiba – tiba muncul seseorang dari balik pohon mengagetkan Sarah.


Sambil malu – malu Sarah tersenyum kikuk menatap Anggun yang berdiri dihadapannya. Ternyata anggun tahu saat sarah membuntutinya.


“Eh iya, Kenalan dulu dong. Namaku Sarah dari kelas X” tukas sarah.


Anggun tersenyum sambil berkata “Iya aku tau kok. Kamu kan yang baru aja di Gabriela”


“iya. Aku penasaran kenapa kok kamu keluar dari Gabriela” tanya sarah.


“kamu beneran pengen tau?” ujar Anggun balik bertanya.


“iya. Itulah kenapa aku ngikutin kamu. Semoga kamu gak balik nanya ke aku, mau tau atau mau tau banget” canda Sarah mencairkan ketegangan suasana.


Anggun tersenyum lagi. “yuk ikutin aku” kata Anggun menarik tangan Sarah.


Ternyata anggun membawa Sarah ke mushola sekolah. Sarah melihat sekumpulan anak – anak rohis.


“kamu gabung di Rohis ya sekarang” tanya Sarah hati – hati pada Anggun.


“Iya, dan aku merasakan kelelahan tanpa arah. Menghafal kode jari, ketawa bareng sesuai password, gonta ganti warna behel tiap bulan. Aku muak Sar. Sampai akhirnya aku bertemu dengan teman – teman disini. Aku merasa bersama mereka aku tak perlu pura – pura hepi. Kita saling mengingatkan dan saling membahas program – program kebaikan yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Kamu tau Sar, akhirnya sekarang aku merasa tidak membutuhkan lagi popularitas semu. Toh, bukan rupa dan harta. Tapi hati dan amal kita yang dilihatNya. Dan saat aku mendengar kajian bahwa ruh – ruh itu seperti tentara yang saling mengenal dan mudah tertaut, aku menangis dan tersadar. Aku takut Sar, kelak Allah membangkitkan aku bersama orang – orang yang melupakan kecintaanku pada Allah dan RasulNya. Kebanyakan tertawa dan melakukan aktifitas tanpa faedah.” Anggun menyampaikan perasaannya panjang lebar.


Glek.


Sarah menelan ludah. Kerongkongannya terasa tercekat. Ia merasa tertampar dengan penuturan Anggun. Ia akui apa yang disampaikan Anggun benar.


Rasa bersalah seketika menderap hati Sarah. Ia tengah membayangkan Bu Susi yang tengah kebingungan mencari uang alat – alat praktikum. Padahal Bu Susi selama ini sangat baik padanya. Tak jarang Sarah diberi kue yang dijual Bu Susi lewat ibu kantin sekolah. Rasa bersalah Sarah semakin bertambah saat sosok ibu melintas di fikirannya. Ibu pasti kecewa bila tahu sarah mengambil uang guru hanya karena behel dan kawan se – Gank nya. Ibu selalu mengajarkannya banyak hal yang baik. Ibu yang lembut dan sangat menyayanginya. Ibu yang juga berperan menjadi ayah sekaligus bagi ia dan kedua adiknya. Ibu yang tak pernah membuat ia merasa menjadi tidak percaya diri walaupun hidup sederhana. Ah Ibu, sarah menghela nafas dalam – dalam. Tak teras bulir bening mengalir perlahan disudut matanya. 


Sarah bertekad esok ia akan mengembalikan uang milik Bu Susi. Ia juga bersiap akan menemui Bella dan semua personel Gabriela. Harapannya, Ia bisa mewarnai mereka bukan ikut larut dan terwarnai oleh corak semu. Kakinya melangkah mantap bersamaan dengan tekad yang kian membulat.

2 Komentar

  1. Wah, ternyata Belezza itu Behel Edelweiss Mozaik Dua dan Gabriela, Gank Behel Putri Enam Lima...ada-ada aja girl squad ini
    Syukurnya Sarah segera tersadar sebelum kejauhan melangkah..

    Keren cerpennya! Keep up the good work, Mbak Shisca...Sukaaa!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak apresiasinya Mba Dian..
      .
      Girl squad masa SMA emang paling heboh ya.

      Gak tau bagaimana nanti anak gadisku

      Hapus