Bullying yang di re-packaging

🐾🌾🐾🌾🐾🌾🐾🌾🐾🌾🐾
Seiring perkembangan informasi dan gegap meriahnya bisnis hiburan menjadikan masyarakat dan generasi muda dibanjiri tayangan brain wash yang seolah mengenalkan diri sebagai _hiburan_. Ada berbentuk sinetron,musik aneka genre, komedi. Komedi saat ini sudah beregenerasi agar terkesan mahal dan berkelas, sehingga packaging nya agak berbeda dengan nuansa komedi di era 70an yang kebanyakan groupy. Saat ini pelawak sudah dituntut untuk mampu menghibur solois didepan audience seraya memaparkan materi yang telah di setting sebelumnya. Ada yang dinukil berdasar pengalaman pribadi yang dikembangkan menjadi lawakan. Sambil stand-up,para Komedian berkisah membully dirinya sendiri atau orang yang dianggap mampu dijadikan objek yang mampu memuluskan tawa pecah audience.
_Bullying_ , mengalami perubahan makna dan di packaging ulang dengan brain wash yang tak lagi dianggapnya menyakitkan. Generasi muda dibuat menikmati cacian dan hinaan kepada objek korban bully. Lantas merasa sah-sah saja bila mencari keuntungan dari penderitaan korban _selama mampu memuaskan orang sekitar yakni audience_. Hilang sudah rasa empati dan rasa pentingnya harga diri seorang manusia.
Wajar, bila ukhuwah saat ini menjadi objek langka yang semakin terkikis nilainya hari demi hari. Padahal Islam melindungi hak dan harga diri manusia baik muslim maupun non muslim asal tunduk patuh terhadap jizyah.
Mari kita berlari sejenak ke Era Daulah Abbasiyah di Baghdad. Saat berita penyiksaan seorang wanita keturunan Bani Hasyim yang matanya dicongkel dan tubuhnya diseret sepanjang jalanan Kota Samarra. Ia menjerit,memanggil Sang Khalifah Al Mu'tashim. Dan berita tersebut sampailah ke telinga Khalifah. Lalu bergegas ia mempersiapkan pasukan besar dan berkata "Labbaik! Aku penuhi panggilanmu"
Sang Khalifah membawa pasukannya ke Zapetra,menyisakan kekalahan telak dikubu pasukan Kaisar Theophilus. Kota Galatia dihancurkan dan 90ribu tentara musuh terbunuh dalam perang Dasymon ini. Begitulah, cara sang Khalifah membalas harga diri seorang muslim yang dianiaya.
Perasaan peka dan rasa empati membela harga diri seorang saudara.
Sudahkah itu tertanam di diri dan generasi penerus kita. Mukmin ibarat satu tubuh, penghinaan pada saudara mukmin lainnya adalah hinaan yang  kita terima. Penderitaan yang mereka rasakan dibelahan bumi manapun adalah juga rasa sakit yang menghujami tubuh kita. Sebab kepedulian terhadap persoalan ummat adalah karakter dasar bagi seorang yang mengaku beriman,bukan pencitraan dan retorika tanpa pembuktian.
Bila tak mampu menjadi Al-Mu'tashim maka mampukan diri dengan segenap harta dan doa untuk meringankan derita saudara. Namun,bila empati ternyata telah pergi periksa hati jangan-jangan ia telah lama mati


〰〰πŸ’š〰〰πŸ–€〰〰πŸ’š〰〰

Rasulullah bersabda Siapa yang melepaskan kesusahan mukmin didunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat.
Bagaimana menjelaskan perihal ukhuwah dan itsar pada buah hati di masa kebanyakan manusia mulai tak peduli pada urusan yang tak terkait langsung dengan dirinya sendiri? Sharing yuk


•┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈•


0 Komentar