Ketahanan keluarga kunci rumahtangga sukses

'يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ 
 'Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
Sabtu siang, 2 Nopember 2019 saya menghadiri seminar ketahanan keluarga yang diselenggarakan RKI (Rumah Keluarga Indonesia) dengan pemateri Dr. Muhammad Iqbal, M.Soc.Sc(Psy) ,Konselor Keluarga Nasional dari Jakarta. Sedikit profil tentang pembicara, beliau adalah Dekan Fakultas Psikologi universitas Mercu buana dan pengasuh Rumah Konseling. 

Tak bisa kita pungkiri,di era digital dan kemudahan akses sosial media masalah perselingkuhan kerap muncul dan menjangkiti banyak rumah tangga termasuk rumah tangga para pelaku dakwah,da'i dan da'iyah. Survei membuktikan bahwa setiap harinya ada  kasus perceraian yang muncul.  Konflik yang terjadi antara pasangan suami istri ini biasanya terjadi akibat kemampuan adaptasi dan komunikasi yang rendah. Sehingga jika pasangan suami istri tidak mampu beradaptasi pada kedua komponen diatas dengan cepat maka pernikahan pun akan berakhir dengan cepat.

Biasanya faktor penyebab yang muncul dilatar belakangi oleh perbedaan sikap dalam pengasuhan anak, ketidaksepakatan seksual, perbedaan temperamen, perbedaan nilai dan kepentingan akibat pola asuh, dan perbedaan tingkat religius. Sebenarnya bagi para da'i ini menjadi tantangan keras. Sebab pada da'i adalah orang yang memahami ilmu agama. Sehingga bila ia tak mampu mengimplementasikan kefahamannya dalam menjalankan syari'at agama di tatanan rumah tangga dan dirinya sendiri maka bisa jadi ia tergolong orang yang hanya mabuk spiritual saja.

' Kesuksesan seseorang adalah saat ia mampu berakhlak baik '


Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang terbuka komunikasinya. Komunikasi yang baik antara pasutri dan juga anak-anak adalah salah satu faktor penguat dalam sebuah keluarga. Lewat komunikasi yang baik dan efektif hubungan antara anggota keluarga dapat terjalin dengan baik dan mampu saling mendukung. Baik ayah maupun ibu terlihat harmonis sehingga anak-anak mencontoh keteladanan kedua orangtuanya dan bersikap respek kepada keduanya.

"Pendidikan dan keteladanan adalah dua hal yang sejalan dan saling terkait"

Sehat anggotanya
Kesehatan anggota keluarga baik secara fisik maupun psikis sangat mempengaruhi kesuksesan keluarga tangguh. Ketahanan fisik yakni kemampuan keluarga dalam menjaga kesehatan fisik, karena bila fisiknya tidak sehat maka akan menjadi masalah dan berdampak kepada kondisi psikis kehidupan keluarga. Walau bagaimanapun Mukmin yang sehat lebih disukai dibandingkan muslim yang lemah. Perlu adanya upaya yang serius dalam mewujudkan keluarga yang sehat, baik dari pola makan, aktivitas dan juga pola istirahat.

Mandiri ekonomi
Ketahanan ekonomi erat kaitannya dengan ketahanan keluarga. Banyak studi kasus yang muncul di lingkungan masyarakat ekonomi berperan penting dalam keutuhan rumah tangga. Walaupun tak bisa dipungkiri banyak juga rumah tangga yang berantakan disaat puncak karir sedang gemilang

Kuat spiritual
Spiritual berbeda dengan religius. Seseorang yang menjalankan sholat dan melakukan amal saleh artinya ia sedang menjalankan fungsi religiusitasnya. Seseorang dikatakan baik spiritualitasnya maka ia tak hanya menjalankan fungsi dirinya sebagai hamba namun juga ia mampu mengimplementasikan pemahamannya dalam setiap aturan dan syariat pada aktivitas hidupnya sehari-hari dengan muamalah yang baik dengan orang sekitarnya termasuk keluarganya.

Ada empat hal yang mampu merusak sebuah rumahtangga yang bilamana keempat hal ini mampu diperkuat dan sejahtera maka sebuah rumahtangga akan menjadi harmonis. Keempat hal tersebut yakni:

  1.  Psikologis
Laki-laki adalah qawwam dalam sebuah rumahtangga. Posisinya sebagai pemimpin di sebagian rumahtangga yang bermasalah sering sekali tidak mendapatkan eksistensi dihadapan para istri. Istri-istri yang menyepelekan kedudukan suami menghasilkan sikap acuh dan tidak respek suami namun terpendam dari dalam hati.  Sementara diluar rumah, bisa jadi suami mendapatkan sikap hormat dari bawahannya ataupun orang-orang disekitar suami. Bayangkan saja bila dirumah ia diperlakukan acuh namun di luar rumah kebutuhan ke-qowwaman-nya terpenuhi maka otomatis akan lebih mudah pula ia untuk berpindah.

Atau dilain kasus, seorang suami merasa tersisihkan karena memiliki istri yang lebih powerfull (baca :tukang ngatur), suka marah dan tidak berlaku baik pada orang tua suami, khususnya ibu. Biasanya lama kelamaan, para suami yang disepelekan ini akan berubah drastis dan mencari pelampiasan sesuai kebutuhannya diluaran.



2. Seksualitas
    Hasil penelitian di Ohio state university menyebutkan bahwa pria tertarik akan seks 19x dalam sehari dibandingkan wanita yang hanya 10kali.
"libido pria sangat kuat sehingga mereka cenderung memprioritaskan seks di atas segalanya yang berhubungan dengan kebutuhan biologis.
Tidak hanya itu, insting pria lebih mementingkan kepuasan seksual daripada kepuasan hasrat makanan. Dengan kata lain, pria membutuhkan seks untuk bertahan hidup, sama seperti makan dan minum.

Terkadang setelah menikah dan punya anak, sebagian wanita cenderung lebih memprioritaskan kebutuhan anak dan mengesampingkan kebutuhan suaminya, termasuk urusan ranjang. Faktor keletihan mengurus anak, dikejar pekerjaan yang belum selesai dan rasa malas dan tidak tertarik berhubungan intim pada istri menjadi faktor penentu laparnya suami akan kebutuhan seksual. Padahal dalam Islam sendiri, suami itu lebih diutamakan dibandingkan urusan yang lain termasuk anak. Atau di lain kasus, suasana rumah dan kamar yang tidak mendukung hubungan intim dengan suami pun bisa jadi pencetus. Misal : tidak tersedia ruangan khusus untuk bercinta karena penuh dengan anak-anak di kamar serta aroma pesing dan berantakan. Disini, suami pun harus bersikap adil dengan siap menyediakan fasilitas untuk kebutuhannya. Logikanya, bila suami sudah kenyang ia tidak akan mencari lagi kepuasan diluar rumah. Bila masih, berarti ada yang harus dievaluasi baik terkait dengan kepuasan maupun masalah penghormatan.


"Bila para suami ingin dilayani bagaikan raja, setidaknya berilah istri istana beserta dayang-dayangnya"

Tips meningkatkan romantisme dengan pasangan:

  • Berikan pujian
     Kesannya sepele, namun pujian mampu meningkatkan rasa harmonis dan percaya diri dari pasangan. Jangan pelit memuji sebab pujian itu gratis gaess.
  • Belajar mengapresiasi pasangan 
     Pernahkah anda mengapresiasi pasangan saat ia melakukan hal baik kepada anda. Seperti pulang cepat, membantu membereskan urusan anak-anak atau setelah selesai berhubungan intim dengan pasangan? Bila belum, maka anda harus belajar mengapresiasi pasangan sekecil apapun kebaikannya dengan intensif dan kontinyu. Setelah itu rasakan bedanya dengan kondisi sebelum anda melakukan tips ini.
  • Sering-seringlah berpelukan dengan pasangan
    Pelukan adalah sebuah terapi bagi hubungan. Tak hanya buat suami dan istri. Bagi orang tua dan juga anak, pelukan sangat efektif mengikatkan bonding. Efek positif dari pelukan adalah: mengurangi kecemasan, membangun harga diri, membangun motivasi, meningkatkan hormon kebahagiaan, meningkatkan kesabaran, meningkatkan kestabilan emosi, mendukung moral yang positif dan juga menyeimbangkan sistem syaraf.

3. Ekonomi

Ketahanan ekonomi adalah kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik kebutuhan pangan, sandang,  papan dan hiburan. Ketahanan ekonomi cukup penting karena keluarga yang tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik akan berdampak pada kualitas hidup dan cara menyelesaikan masalah keluarga.

Kepala Humas pengadilan agama di Banjarmasin, Bahtiar MH mengatakan bahwa 90 persen kasus perceraian yang masuk dalam daftar persida
ngan perceraian di Banjarmasin disebabkan karena permasalahan ekonomi.  Baik karena ekonomi berlebih maupun ekonomi yang kurang sehingga istri menuntut bercerai.

4. Spiritual/ mental
    Kekuatan spiritual penting sekali dalam ketahanan keluarga. Anggota keluarga tidak hanya dididik untuk melaksanakan ketaatan dalam bentuk ibadah kepada Allah namun juga dididik untuk merasakan pengawasan dari Allah. Bila sudah muncul rasa diawasi maka peluang untuk berbuat hal yang tidak baik, akan minim sekali dilakukan walaupun tanpa didampingi pasangan ataupun keluarga. Upayakan sejak dini anak dididik untuk bermental kuat agar ia tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri dan tahan banting sehingga ia mampu berdiri menghadapi permasalahan dan tantangan di luar rumah. Upayakan berlakukan SOP didalam rumah seperti tidak mempassword gawai antara pasangan dan anak-anak agar terjalin keterbukaan dan kecenderungan untuk melakukan perselingkuhan ataupun hal yang negatif bisa diminimalisir dengan saling menguatkan.

Semoga keluarga kita dijaga keutuhannya, hingga Jannah Nya. Mulailah serius membangun kekuatan dan ketahanan keluarga, sebab keluarga adalah unit terkecil yang menentukan kesuksesan sebuah masyarakat, negara dan juga peradaban.

Author www.jejakbunda.com


43 Komentar

  1. MAsyaAllah seminarnya keren bun, semoga Allah menjaga keutuhan keluarga kita hingga JannaNYa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahumma Aamiiin

      Sehidup sesurga, insyaaAllah

      Hapus
  2. Mantull seminarnya.
    Yang paling menohok "kesuksesan seseorang itu ketika mampu berakhlak baik".

    Kadang mampu baik berakhlak baik pada orang lain, tapi lupa berakhlak baik sama suami dan anak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indeed...

      Pemateri juga berpesan,
      Bukan dari cepat atau lambat nya.
      Tapi dari endingnya, Husnul khatimah gak...

      Seketika awak ngerasa kaku

      Hapus
  3. Haha galfok sama ilustrasi mini jokernya kaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya...
      Ini salah satu ilustrasi candaan si pemateri juga

      Hapus
  4. Keren sekali acaranya ini, Mbak Shischa. Sangat komplit penjelasannya bagaimana ketahanan keluarga yang merupakan kuci sukses rumah tangga. Dan memang semua elemen harus diperhatikan ya, Mbak. Agar semua selaras.
    Terima kasih sharingnya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas,
      Setiap elemen saling mempengaruhi

      Hapus
  5. Intinya saling sayang dan saling menghargai ya. Kadang kesibukan membuat kita menganggap remeh atau abai pada pasangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemahaman yang kurang selaras juga. Seperti istri tidak faham seperti apa tugasnya dan suami kurang berperan memaksimalkan kepemimpinan nya

      Hapus
  6. Kadang abai ini gak cuma akibat kegiatan di luar rumah ya kan.. Aktivitas domestik pun berpotensi.. Semoga kita dikuatkan menjadi istri istri yang senantiasa memperbaiki diri yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahumma Aamiin...

      Rekaman pola asuh juga mempengaruhi kak. Kadang kita mencontoh perilaku yang tidak semestinya di pengasuhan orang tua dl. Seperti tidak peka terhadap istri, dan istri pun mencontoh bagaimana ibunya memperlakukan ayahnya

      Hapus
  7. MasyaAllah ... Mantuuul. Komplit banget. Ini wajib dibaca oleh semua pasangan dan siapapun yang memang berkomitmen untuk menikah.

    Apalagi ilmu seperti ini lazimnya sudah dipelajari sebelum terjadi pernikahan. Supaya nggak kaget ya, Bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang sih better sebelum menikah sudah ada kursus/dauroh Pra-nikah ya mba.. supaya sudah siap dengan tantangan saat di pernikahan yang sesungguhnya

      Hapus
  8. Ilmunya bermanfaat banget,semoga kita semua bisa jadi suami dan istri yang 'tahu' diri dalam rumah tangga

    BalasHapus
  9. maaf bun, saya kok ya salfok sama banner 'Jejak Bunda D'Lima'nya ya.
    Bagus dan banyak warna.

    Gimana bikinnya Bun? Bukan mintol si Lance kan? haha

    BalasHapus
  10. Terima kasih bun atas infonya, bermanfaat sekali bagi saya seorang istri. Belajar bukan hanya dari masaalu tapi dengan banyak membaca kita akan tau.

    BalasHapus
  11. Ternyata Ketahanan Keluarga seperti itu, ya. Bagaimana dengan yang ekonominya masih lemah, Mbak? AH, tapi kan ekonomi bukan satu-satunya ya. Sangat sedikit perkawinan yang sempurna. Tapi dengan menyadari ketahanan pangan yang tercapai, kita jadi lebih banyak bersyukur.

    BalasHapus
  12. Yaaa kadang abis punya anak, pikiran ibu suka fokus ke anak. Tapi kalau dikomunikasikan insyaAllah sama2 paham sih. Misalnya kalau pas lelah minta bantuan suami dna suami mestinya wajibpaham jug sih membantu istri. Memudahkan kerjaan istri. Misal kalau gk masak, gak nyuci, bersihin rumah minimal gaji org atau suami dilarang sepet liat rumah kalau standar kebersihannya menurun, yaaa pokoknya istri dibantu, begitu pula sebaliknya istri ngertiin suami juga, intinya bener komunikasi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi baca quotenya lucu tapi miris dan emang bener sih kyknya laki2 tu kan egonya tinggi jd ingin merasa dihormati. Jd walau perempuan udah mandiri finansial sebaiknya tetep jangan lupa menghormati dan melayani suami yaa

      Hapus
  13. Sebagai anak yang ditakdirkan memiliki orang tua yang sudah bercerai, saya sangat setuju dengan semua statement yang ada di tulisan ini :)
    Saya banyak mengambil pelajaran hidup dari perpisahan tersebut. Menurut saya, yang terpenting adalah ini agama, pemahaman dan penerapannya di dalam kehidupan berumah tangga.

    BalasHapus
  14. Ini yang kemarin nongol di instagram, akhirnya aku sempat membaca tulisannya.

    Mantap mbak...salah satu PR dalam berumah tangga adalah komunikasi. Tapi banyak faktor juga yang menunjang itu. Aku dan istri lagi benar benar belajar berkomunikasi jika sedang ada masalah....

    Tfs, mbak...

    BalasHapus
  15. Nah seminar seperti ini nih yang kita butuhkan. Gimana suami dan istri itu diberi pemahaman yang berimbang tentang ketahanan keluarga. Keren

    BalasHapus
  16. Wah, terima kasih rangkuman atas materi sminarnya mbak. Lengkap bangeettt! Serasa hadir di lokasi saja, saya manggut-manggut sambil baca

    BalasHapus
  17. Seandainya tulisan Kak Shisca ini dibaca sm yg jd penyebab layangan putus itu, kan kisahnya gak sampe viral ya, huhuu... Msh baper krn empati sm mommi itu,, semoga para pasutri bs berlaku amanah menjalankan peran dan fungsinya sebagai suami/istri ya, agar tak ada layangan² putus berikutnya

    BalasHapus
  18. Universitas Mercubuana dekat rumahku ini, Mbak, ..#gaknanya
    Kok aku bacanya rwlated banget sama #layanganputus ya..duh
    Semoga keluarga kita dijaga keutuhannya, hingga Jannah Nya ya,Mbak..Aamiin
    Saling mengingatkan sepeeti ini baik sekali. TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, Deket UMB ya mba Dian...

      Iya nih, layangan putus lagi in banget ya.
      Bacanya bikin menguras jiwa dan air mata emak-emak. Sampe suamiku komen ngeledek, kok kamu itu pedihnya all out kayak kamu-nya si pemeran utama. Seketika aq langsung jegerr mingkem

      Hapus
  19. Tipsnya wajib diterapkan di rumah neh, soalnya emang manjur banget. Kalau tipsnya sudah diterapkan, dekatkan diri dan pasrahkan semuanya sama Allah Swt. In syaa' Allah langgeng.

    BalasHapus
  20. saya sendiri masih sering kebablasan, ngutamain keperluan anak daripada suami.
    kadang tepok jidat sendiri, pas tersadar.
    cepat-cepat minta maaf... tapi ya kejadian lagi...

    BalasHapus
  21. Bila para suami ingin dilayani bagaikan raja, setidaknya berilah istri istana beserta dayang-dayangnya. Yang ini, benar banget.... Hahahahaha. Jangan semena-mena, memberi uang sekelas dayang, maunya disembah seperti raja.
    Oh ya, bagaimanapun ketahanan keluarga ini bisa dicapai sesuai dengan tingkat kemapanan saat ini ya

    BalasHapus
  22. Ilmunya bermanfaat banget,semoga kita semua bisa jadi suami dan istri yang 'tahu' diri dalam rumah tangga

    BalasHapus
  23. Memang benar adanya bahwa pernikahan bukan akhir dari doa-doa kita tentang jodoh, tentang pasangan hidup. Justru ini adalah awal mula perjuangan bersama pasangan.

    BalasHapus
  24. Kenapa menikah itu disebut setengah dien karena emang pahalanya gede banget ya. Banyak yg dikorbankan. Makanya memang perlu saling mengerti dan memahami.

    BalasHapus
  25. Bahasan yang menarik dan tidak biasa. Quotenya juga masuk akal. Thanks for sharing

    BalasHapus
  26. Komplit bgt mba ulasannya, yg ga dtg jadi berasa dapat ilmu juga.

    Intinya sebagai pasangan harus saling membutuhkan dan memperhatikan ya. Komunikasi memang paling penting.

    Tp sesungguhnya ada pasangan yg emang susah bgt buka komunikasi ya, huhu

    BalasHapus
  27. Keluarga akan baik ketika kehidupan spritual benar2 dijalankan. Saya pikir itu yang paling utama. Dengan spritual yang baik, pasangan keluarga pasti dapat saling mengerti. Terutama soal kebutuhan seksnya. Jadi kalau ada yang menyatakan perpecahan keluarga karena ketidak puasan seks. Saya pikir itu hanya alasan karena kekuatan spritual didalam dirinya sangat lemah.

    BalasHapus
  28. Saya sangat setuju bahwa Ketahanan keluarga kunci rumahtangga sukses. Terima kasih tips-tips nya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  29. Meme jokernya menohok awak masih banyak kesalahan sama suami, semoga rumah tangga kami tetap rukun dan samawa ya allah

    BalasHapus
  30. masyaAllah makasih tambahan ilmunya kak siskaaa. emg sblm nikah ini banyak kl yg perlu dipersiapkan ya, gak kebayang berumahtangga :"

    BalasHapus
  31. Seminarnya bagus bngat dan tips tipsnya juga sangat bermanfaat. Intinya harus saling memahami juga.

    BalasHapus
  32. Ahhh daging banget artikelnya buat bekal jomblo menikah di kemudian hari ��
    Makasihh bunda Yumna

    BalasHapus
  33. Nice share sis...
    Suami suami jahat adalah suami suami baik yang disepelekan...hihihi...

    BalasHapus
  34. Seminarnya bagus ya kak. Suami istri memang harus saling menguatkan dan dikuatkan. Terutama iman dan spiritualnya. Jadi tiap ada masalah yang datang, kembalikan lagi ke iman agar mencari jalan keluar terbaik.

    BalasHapus