Glaukoma diagnosa yang bikin drama (part 1)

Pernahkah mendengar istilah glaukoma? Kalau saya, baru-baru ini saja. Tepatnya setelah berkunjung ke sebuah layanan kesehatan mata yang bertempat di jalan kapten Sumarsono Medan.
Dibandingkan Glaukoma, istilah katarak mungkin akan lebih sering kita dengar. Namun,keduanya sama-sama bukan pilihan yang menyenangkan karena merupakan penyakit penyebab kebutaan atau hilangnya fungsi penglihatan.

Awal mula mengenal Glaukoma

Senin, 5 Agustus 2019 kami memutuskan untuk membawa putri pertama kami yang berusia 11 tahunan untuk mengambil rujukan dari puskesmas ke UPT Rumah Sakit Khusus Mata Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Tempatnya yang tidak begitu jauh dari rumah cukup membuat kami nyaman mengambil layanan walaupun prosedur yang dilewati cukup panjang. Hingga surat rujukan keluar, kami hanya memprediksi Yumna akan diberikan rekomendasi kacamata karena keluhan kabur penglihatan pada jarak tertentu saat membaca tulisan. Akhirnya setelah menunggu antrian, giliran Yumna memasuki ruangan periksa.
Seperti pengalaman yang sudah-sudah di dokter mata, Yumna dites kemampuan membaca dalam jarak pandang tertentu. Agak kaget juga, karena beberapa huruf tak mampu ia lihat dengan jelas, padahal jelas-jelas cukup besar menurut pandangan mata kami. Parahnya, ia mengaku kesulitan mengidentifikasi huruf dan angka yang terpapar cahaya berlebih.
Sampai disini kami masih menganggap ini terkait miopia biasa.

Selanjutnya, dokter memeriksa tensi mata Yumna. Lalu kami diminta menunggu kembali. Saya sempat berbisik padanya sambil menunjuk seorang gadis yang berjalan dengan kacamata dengan lensa ujicoba. "Sebentar lagi Yumna akan coba pakai lensa seperti itu Nak, Nanti bila tak nyaman jangan sungkan untuk menyampaikan ke dokter". Yumna terlihat mengangguk mendengarkan penjelasan kami.
.
Selang setengah jam kemudian, kembali dokter memanggil namanya. Kami bergegas masuk kedalam. 
"Sudah nyoba pakai kacamata?"
"Belum Dok" jawabku membantu Yumna menjawab pertanyaan sang dokter.
Lalu, ia memanggil perawat mata dan memastikan tidak ada fase yang terlewat.
"Cek dulu Dok, hasilnya" begitu ujar sang perawat.
" Wah,iya nih. Tampaknya harus ke spesialis lagi nih Bu" gumam sang dokter.
Kami berpandangan. Mulai terasa bahwa Yumna tidak mengalami gejala miopia biasa 
"Belum bisa ya,pakai kacamata. Kita periksa lebih lanjut lagi" komentar sang dokter lagi.
.
Kami keluar lagi dari ruangan dan menunggu lebih dari 40 menit untuk masuk ke ruangan spesialis mata.
Akhirnya, kami dipanggil juga kedalam setelah Pak Sarjono, pasien yang mengeluhkan nyeri terkena serpihan las keluar ruangan.
.
"Berapa usia putrinya Bu?" Tanya dokter
"11 tahun 7bulan dok" jawabku.
"Kenapa bisa parah sekali Bu. 2/60 loh Bu perbandingan penglihatan nya dari kondisi normal"
"Dok, lihat itu tensi matanya" celetuk seorang perawat mata sambil meminta dokter memeriksa status klinis milik Yumna.
"Waduuuh, ini kok bisa tinggi sekali Bu? 24 tekanan matanya. Apakah dia pernah jatuh dengan kepala terbentur" Tanya dokter.
"Jatuh biasa dok" jawabku
"Bu, saya beri obat 4hari dan segera kembali ya Bu untuk pemeriksaan lanjutan" tukas dokter
" Wah, harus lewat sepekan Dok. Mereka pasien BPJS" sanggah sang perawat kembali.
"Oh begitu ya.." dokter angguk angguk kepala.
"Bu, untuk sementara tolong di kontrol makanan nya. Hindari kopi, Soda, kacang-kacangan, dan perbanyak makan pisang. Oh iya, kalau tidur, jangan matikan lampu ya" begitu pesannya saat mengakhiri konsultasi.
.
Pasien sudah mulai kosong saat kami mengantri di kasir obat.
Tertulis glaukoma di catatan sang dokter lalu dengan tatapan penuh empati petugas di kasir obat berkata
" Usianya masih sangat muda ya Bu"
" Iya" jawabku pendek.
Setelah itu ia menjelaskan prosedur penggunaan obat.
.
Kami terdiam cukup lama selama perjalanan pulang.
Masing-masing dari kami menyimpan rasa sambil menenangkan diri dengan keyakinan penuh bahwa semuanya adalah takdir dari Allah dan itu baik menurut ilmuNya.

Menyiapkan perasaan anak dan menjelaskan kondisi dengan berbagai dukungan

Usai menyiapkan makan adiknya yang paling bayi, Yumna kami ajak berbicara dari hati ke hati dan menjelaskan kondisi dirinya berdasarkan diagnosa yang ditetapkan dokter. 
"Nak, mintalah pada Allah. Karena Allah sang penyembuh. Ikhtiar kita adalah berusaha maksimal. Untuk hasil, biarlah Allah yang menentukan.
"Apakah Yumna akan buta mendadak" begitu mengalir pertanyaan dari lisannya
"Penglihatan adalah rezeki dari Allah,dan itu adalah milikNya yang tak bisa kita tunda bila Allah menghendaki untuk diambil. Sekarang,mari kita maksimalkan rezeki penglihatan ini agar saat diambil sudah banyak amalan shalih yang kita lakukan." Jawabku lirih
"Maksimalkan interaksi dengan Al-Qur'an ya Bun. Semoga bisa hafal sebelum tidak bisa membaca huruf huruf indahnya"
Ah Nak, betapa engkau masih muda. Semoga bilamana ia benar terjadi, semoga ini adalah jalan agar tak banyak maksiat yang terlihat lewat rezeki penglihatan dariNya.
Ya Rabbi, diagnosa dokter pada putri kami tidak menyurutkan keyakinan kami untuk berprasangka baik pada taqdirMu

------------------------------------------------------------------

Glaukoma adalah penyebab kebutaan nomor 2 di Indonesia selain katarak, yang biasanya terjadi pada usia 40 tahun keatas. Ia merusak saraf mata akibat tekanan bola mata atau Tekanan Intra Ocular( TIO) yang tinggi. Pada umumnya seseorang baru menyadari adanya blind spot pada saat kerusakan serabut saraf optik sudah parah. Dan bila seluruh serabut saraf telah rusak, akan terjadi kebutaan total.

Glaukoma ada beberapa jenis:
1. Glaukoma primer sudut terbuka
Kasus ini terjadi pada usia tua. Hilangnya tajam penglihatan pada jenis glaukoma ini terjadi bertahap. Mulai dari titik buta (skotama) yang kecil hingga membesar.

2. Glaukoma primer sudut tertutup
Ini merupakan jenis terbanyak di Indonesia. Sudut bilik mata depan akan tertutup secara mendadak seperti selapis kertas yang menutupi saluran keluar dan menyumbat aliran okuos humor. Biasanya gejala klinis yang terjadi adalah :
Tajam penglihatan menurun.
Rasa sakit kepala yang hebat juga mata
Mual dan muntah
Tampak pelangi saat melihat lampu

3. Glaukoma sekunder
Jenis glaukoma ini disebabkan sudut bilik mata depan rusak disebabkan :
Kecelakaan ataupun trauma
Obat-obatan tertentu (steroid)
Tumor
Reaksi peradangan
Adanya pembuluh darah yang tidak normal

4. Glaukoma Kongenital
Kasus ini sebenarnya jarang terjadi. Biasanya ketidaknormalan ini terjadi sejak lahir. Orang tua mengenalinya bila bolamata anak lebih besar dari normal, mata tidak terlihat jernih dan keluar air mata bila terpapar sinar atau pun cahaya

Glaukoma terjadi ketika produksi cairan aqueus humor pada bola mata meningkat tidak mengalir dengan sempurna. Sehingga tekanan bola mata tinggi dan serabut saraf menjadi terjepit dan mengalami kematian. Akibatnya hubungan penglihatan ke otak terganggu dan terjadi kebutaan. Pemeriksaan mata secara teratur adalah jalan terbaik mendeteksi glaukoma secara dini. Pemeriksaan itu mencakup:
1. Melihat kondisi sudut bola mata dengan genioskopi
2. Memeriksa lapang pandang mata dengan perimeter
3. Mengukur tekanan intra Ocular dengan tenometer.

30 Komentar

  1. Semoga diberi kesehatan ya mata anaknya, Bun. Kl anak lg sakit gitu gimana ya rasanya, I feel you. Insyaallah selalu ada kemudahan setelah kesulitan.
    (Peluk) semangat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya kak Mia, diingatkan kembali Al Insyirah nya

      Hapus
  2. Masyaallah yumna.. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan berlimpah...

    BalasHapus
  3. Masya Allah...semoga diberi jalan untuk sembuh ya bun...tetap semangat tetap ikhtiar maksimal. Salut sama semangatnya Yumna, ingin lebih dekat dengan quran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doakan ya kakak dokter cantik, tak luntur semangatnya berinteraksi dengan Al-Qur'an walau apapun kondisinya

      Hapus
  4. kalau tidur jangan matikan lampu ya. Bun, Kok dokter nyarani itu bun?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada penderita glaukoma, lebih disarankan lampu nyala saat tidur agar tekanan dan kerja pupil tidak berlebihan dy

      Hapus
  5. sekarang emng rada aneh sih. dulu katanya tidur dengan lampu mati. sekarang malah disaranin buat nggak matiin lampu. hmmmmm tapi agak banyak juga info terkait glukoma di tulisan kk ini. thanks for share ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk case glaukoma kakak,hehe
      Anyway, thanks udah mampir ya kakak

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  7. Innalillahi, baru tau karena baru sempat bw.

    Semoga si ukhti cepat pulih ya bun.
    Kemarin ada yang nawarin obat tetes mata dari madu khusus mata.

    Bukan madu konsumsi.
    Katanya udah banyak testimoni.
    Lupa namanya, coba nanti awak tanya balik ya

    BalasHapus
  8. Innalillahi, baru tau karena baru sempat bw.

    Semoga si ukhti cepat pulih ya bun.
    Kemarin ada yang nawarin obat tetes mata dari madu khusus mata.

    Bukan madu konsumsi.
    Katanya udah banyak testimoni.
    Lupa namanya, coba nanti awak tanya balik ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahumma Aamiiin

      Cemana lah awak mau cerita ye kan, ter-skip terus sama krucil pas kita jumpa.

      Madu untuk mata? Jadi penasaran awak

      Hapus
  9. subhanallaah … syafahullaah. moga diberikan kesembuhan terbaik dari Allah ya, Shis. Ortunya juga semoga sabar dan terus berjuang, berpikir positif. semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaaAllah hamasah,vy.

      Makasih ya vy udah jalan-jalan kesini

      Hapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. tapi masih bisa sembuh itu bunsis.
    awak blom ngeh sama penyebabnya.
    apa karena yumna jatuh biasa itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut literatur, tidak bisa disembuhkan tapi bisa diminimalisir dan diperlambat kebutaannya Bun.
      .
      Dugaan jatuh, mungkin karena dokter berasumsi adanya tekanan pada mata saat terjadi benturan ataupun trauma. Karena saya sudah sampaikan gaya hidup anak sehat. Tidak ngopi dan minuman soda. Kondisi bawaan dan genetik juga mempengaruhi kok

      Hapus
  12. Semoga Kakak Yumna kondisinya membaik.
    Sabar ya Bunda.

    BalasHapus
  13. Setau aku, penyakit yang diakhiri dengan "..oma" di belakangnya adalah jenis penyakit yang cukup berat. Semoga diberi yang terbaik utk yumna sholeha. Baca cerita kk aja badanku gemetar,, teringat waktu anakku didiagnosa demam berdarah, sesak kali rasanya. Kakak tetap sabat dan kuat ya..

    BalasHapus
  14. Subhanallah syafakillah ya yumna , mudah2an segera dijauhkan dari penyakit mata glaukoma, memang sering saya dengar tapi yang kena ya para orang tua

    BalasHapus
  15. Biasanya yang aku tau penyakit ini menyerang orang yang sudah tua,

    Semoga sang putri cepat sembuh

    BalasHapus
  16. Astaghfirullah mba..saya baru tau..syafakillah buat yumna..yumna itu emang keren dan dewasa..jadi pingin belajar gmnmendidik anak seperti itu...tapi saya baru tau tentang pentakit ini mba makasih banget infonya.

    BalasHapus
  17. Smgt kaaak. Smoga ada jalan untuk kesembuhan si cantik. Allah ma'ana.

    BalasHapus
  18. Ya benar, saya tahunya katarak saja, wah nama lagi nih wawasan seputar kesehatan mata

    BalasHapus
  19. Kaaa jadi penyebabnya belum ketahuan yak? Maksudnya entah kaya rabun biasa baca sambil tiduran, banyak main gadget dll gituu

    Semangat ya Yumna ikhtiarnya, bener itu minta sama Allah SWT untuk kesembuhan,
    Mamanya semangat juga 💪 semoga diberi kesembuhan aamiin

    BalasHapus
  20. Pingin nangis bacanya. Apalagi pas bagian baca Quran. Hiks. Semoga segera sehat lagi ya Yumna..

    BalasHapus
  21. Aku g menayang jika itu anakku,yaAllah semoga kuat ya kak,dan segera sembuh y kaka yumma nya

    BalasHapus